Home

Arus Pelangi was established in 2006 as a response to a desperate need in Indonesia for formal legal representation of the LGBT Community in order to affect the societal norms and perceptions towards, and to increase an overall awareness of the rights of the LGBT community.

Recent Posts

Rumah Belajar Pelangi

Akhir 2014, Arus pelangi sepakat untuk membuat sebuah program berupa kelas mingguan yang berisi materi terkait isu SOGIE (Seksual Orientation Gender Identity and Expression) , HAM, dan isu sosial lain nya yang diberi nama Rumah Belajar Pelangi. Rumah Belajar Pelangi dibagi dalam 3 level belajar yaitu kelas dasar, kelas menengah, dan kelas lanjutan. Setiap kelas berisi beberapa sesi materi pembelajaran yang sudah disiapkan.  Selama ini, Informasi tentang SOGIE dan HAM hanya diberikan kepada komunitas LGBTI dalam pelatihan organisasi yang terbatas. Sementara banyak kebutuhan akan informasi SOGIE dan HAM datang dari masyarakat umum, dan komunitas LGBTI yang belum tergabung di organisasi manapun.

Dan dari situlah, Arus Pelangi mengajak kawan-kawan LGBTI maupun non-LGBTI untuk belajar dan  berproses bersama tentang konsep SOGIE dan HAM .

 

PESERTA RUMAH BELAJAR PELANGI (RBP)

Mereka bisa datang dari kalangan LGBTI ataupun dari kawan-kawan mahasiswa atau bahkan dari kawan-kawan yang datang atas nama individu yang memiliki minat untuk mempelajari lebih dalam terkait apa itu SOGIE dan HAM. Tentu saja Arus Pelangi juga punya kewajiban bagi kawan-kawan yang memang sudah tergabung sebagai anggota untuk memberikan pemahaman terkait SOGIE dan HAM. Dan hal ini akan menjadi tanggung jawab bersama untuk bisa memanfaatkan ruang belajar dan diskusi terkait SOGIE dan HAM yang telah disediakan oleh Arus pelangi.

 

BERPROSES

RBP sudah berjalan sejak awal Maret 2015. Setiap Sabtu dari pukul 10.00 – 15.00 WIB. Ada tiga kelas dasar yang dibagikan, diantaranya, Kelas Dasar SOGIE, Kelas Dasar HAM dan Kelas Dasar Bullying dan Hak Anak. Di luar dari materi tersebut, RBP juga menyiapkan kelas Diskusi tematik. yang mengundang narasumber-narasumber bersangkutan dengan topik yang akan dibahas.

IMG_9935Tentu saja proses dalam kelas ini juga tak lepas dari andil para fasilitator yang sebagian juga terwakili dari kawan-kawan Transgender; Waria dan Transmen. Ketika ditanya, alasan terkait keterlibatan Rebecca dalam proses belajar ini, dia mengungkapkan bahwa semakin mengetahui dasar-dasar tentang SOGIE, semakin besar pula rasa penasaran untuk tahu lebih dalam dunia LGBTI. Semakin mendalaminya justru semakin banyak hal yang dia belum ketahui. Dan tertantang untuk lebih banyak mempelajari hal ini. Dan dari kegiatan ini, Alumni Transchool SWARA yang mendapat peringkat pertama di ajang Miss Waria Remaja 2014 berharap supaya bisa berbagi dengan teman-teman yang lain dan berkontribusi demi kemajuan komunitas terutama kawan-kawan waria lainnya.

“RBP adalah wadah diskusi yang sangat open dimana peserta bisa dengan bebas menyampaikan ide dan bertukar pikiran tanpa restriksi sensitifitas heteronormatif. Dengan kata lain, peserta bisa dengan sangat terbuka mengemukakan pendapat pada sebuah diskusi tanpa harus ada rasa takut akan judgement dari pihak lain,” ungkap Bahram Naderil, salah satu peserta kelas RBP.

“RBP juga berfungsi sebagai ruang penambah wawasan, baik untuk komunitas LGBTI atau pun non-LGBTI. Ada hal-hal yang oleh “masyarakat umum” masih dianggap tabu atau tidak dipantaskan untuk diperbincangkan di area publik, di RBP pun sah-sah saja. Seperti contoh, pada saat kelas diskusi tematik yang mengangkat tema Keimanan dan LGBTI. Yang notabene mencampurkan topik agama dengan identitas gender/seksualitas. Di ruang publik lain bahkan di sekolah/kampus pun kedua hal ini merupakan topik sensitif yang bahkan dibatasi untuk dibahas. Justru di kelas RBP ini, kita bisa menemukan wadah dimana topik tersebut bisa didiskusikan secara terbuka dan informatif,” Bahram menambahkan.

“Kelas pertama (red: SOGIE) , benar-benar mendobrak apa yang selama ini saya pahami. Terkait pemahaman seksualitas. Yang awalnya berdasarkan hanya kepada literatur-literatur, tanpa ada penjelasan yang lebih eksplisit, namun di kelas ini saya semakin menyadari bahwa LGBTI itu betul-betul “unik” tidak bisa dijadikan satu bentukan. Masing-masing tidak berkaitan, “ salah satu peserta lain menimpali.

“Sampai tulisan ini diturunkan, kita masih baru mulai dari kelas dasar. Peminatnya cukup antusias.Ada yang memang belum tahu tentang apa itu SOGIE, ada yang sudah tahu, tapi ingin menambah lagi. Jadi ada keinginan untuk mempelajari lagi dan lagi. Dengan harapan, nantinya bisa mengurangi gap-gap pengetahuan antar komunitas. Dan juga bisa berbagi informasi terhadap semua kawan dari lingkup manapun,” tutur Amalia Indah Rozi, ketua pelaksana RBP.

Dari kegiatan positif ini, mereka yang menjadi peserta, diharapkan bisa menjadi peer education. Jadi bisa menjadi penyambung informasi terhadap kawan-kawan yang belum punya kesempatan. Jadi tidak berhenti di mereka (peserta), informasi dan pengetahuan akan terus diturunkan oleh peserta-peserta tersebut.

Rozi juga menambahkan, “Ada pepatah, ‘tak kenal maka tak sayang,’Terkadang, masih banyak orang-orang yang belum paham terkait apa itu LGBTI. Terkadang orang tidak mengenal apa itu LGBTI, sehingga mereka masih beranggapan bahwa itu salah. Kita sengaja berbagi ilmu tak sekedar untuk LGBTI, tetapi non-LGBTI pun diharapkan ikut berpartisipasi juga. Agar supaya mereka paham. Ternyata LGBTI bukan hal yang harus dihindari. Bukan sesuatu yang salah.” (iow)

 

Pendaftaran  dapat  dilakukan  dengan  mengirimkan email ke   rumahbelajarpelangi@aruspelangi.or.id / rozi01ap@gmail.com atau  menghubungi  Sekretariat  Arus  Pelangi.   Sertakan  nama,  alamat,  no  telp,  email,  pekerjaan/ aktivitas  saat ini,   motivasi untuk mengikuti kegiatan ini, dan dimana mendapatkan informasi tentang kegiatan ini.

  1. Perkosaan Massal untuk Kuasa: Narasi Besar Penundukan Tubuh Perempuan Leave a reply
  2. ASEAN: Actions of the AICHR’s Current Chair Demonstrate Need for AICHR’s Terms of Reference to Ensure Independence and Impartiality of its Commissioners Leave a reply
  3. Latest UN Report on Trans Right in Iran Leave a reply